Kromosuwiryo dikenang dalam riwayat keluarga di kawasan Gedangan–Bangsri, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sebagai bagian dari generasi yang mengalami langsung masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam dokumentasi keluarga, namanya dikaitkan dengan peristiwa pada masa Agresi Militer Belanda II sekitar tahun 1948, ketika wilayah Jawa Tengah menjadi salah satu medan pergolakan dan perlawanan rakyat terhadap kekuatan kolonial.
Menurut cerita keluarga yang diwariskan lintas generasi, Kromosuwiryo menjadi korban kekerasan pada masa tersebut. Ia disebut ditembak oleh tentara Belanda, sementara rumah keluarga mengalami pembakaran. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dari memori keluarga dan membentuk kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui pengorbanan yang nyata. Namun, Yayasan Rumah Perjuangan Kromosuwiryo Gedangan menempatkan kisah tersebut secara bertanggung jawab sebagai warisan sejarah keluarga yang masih memerlukan penguatan melalui verifikasi arsip primer dan sumber sejarah resmi.
Semangat Kromosuwiryo kini diteruskan bukan dalam bentuk perjuangan bersenjata, melainkan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, integritas, kebudayaan, riset, dan pengabdian kepada bangsa. Warisan perjuangannya menjadi fondasi bagi upaya menjaga sejarah sekaligus menginspirasi generasi muda agar memahami bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan karya, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada kepentingan Indonesia.
